Bumi Manusia: Kisah Manis Pahit Minke dan Annelies
- jerryykrismanto
- Sep 9, 2021
- 2 min read

Bumi Manusia, novel terkenal karya Pramoedya Ananta Toer yang berhasil diterjemahkan lebih dari 42 bahasa. Bercerita pada zaman dimana Indonesia masih diduduki oleh Belanda. Pramoedya membawa alur cerita sangat kental dengan budaya Jawa pada zaman dahulu dan bercampur dengan budaya Belanda. Tak heran jika novel Bumi Manusia ini juga sangat terkenal di negeri kincir angin itu. Sebagai buku pertama, novel tersebut berhasil mendapatkan berbagai penghargaan dunia.
Dikutip dari Wikipedia, Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia.
Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara, 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru. Pada tanggal 21 desember 1979, ia mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur 1 kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
Membaca novel ini akan membuat seperti berada di dalam cerita. Menyaksikan Minke seorang remaja cerdas yang mencintai negaranya dan bangga akan darah Jawanya, juga selalu semangat menempuh pendidikannya. Annelies seorang perempuan cantik dambaan lelaki, terdidik dengan sangat pandai oleh ibu kesayangannya, mandiri, sopan nan santun, pintar, dan perkerja keras.
Nyai Ontosoroh “buah bibir penduduk Wonokromo” seperti yang dikatakan Minke, Nyai penguasa Boerderij Buitenzorg, Nyai perkerja keras dari yang paling perkerja keras, pemimpin tegas, baik hati, sangat menghargai orang, cantik, dan mempunyai tata krama yang sangat bagus untuk seorang ‘Nyai’.
Tokoh lainnya seperti Robert Suurhof sebagai teman sekolah Minke yang mempertemukan Minke dengan Annelies, Robert Mallema sebagai kakak dari Annelies yang tidak suka dengan kehadiran Minke ke keluarganya, Jean Marais sebagai teman Minke yang bijaksana siap mendengarkan curahan hati Minke kapan saja, May Marais sebagai gadis kecil anak dari Jean Marais yang cukup menarik perhatian di novel ini karena menggemaskan, memprihatinkan, dan sangat dekat dengan Minke. Dengan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang saya tidak bisa kenalkan satu persatu.
Selain bercerita tentang kisah asmara manis maupun menyakitkan dari Minke dan Annelies, Bumi Manusia juga menggambarkan keadaan Indonesia pada zamannya. Dimana Indonesia bercampur Belanda, orang-orang Jawa di bawah naungan orang Belanda. Belanda dan Eropa yang di anggap sangat tinggi pada zamannya. Cerita ini sangat memperlihatkan sudut-sudut memprihatinkannya Indonesia pada saat itu.
Konflik-konflik yang terjadi tersusun rapi mengikuti alur, semakin cerita berlanjut konflik semakin rumit dibuatnya. Konflik orangtua Minke, Robert Mallema selaku suami nyai yang berdatangan memicu permasalahan hubungan Annelies dan Minke. Annelies dan Minke yang menjalani hubungan manis pun menjadi korban dari konflik yang terjadi. Hingga saat terjadinya perselisihan antara hukum Belanda dan Indonesia, permasalahan besar semakin menerpa hubungan Minke dan Annelies. Konflik terbesar yang ditempatkan di bagian akhir penutup bab dalam novel karya Pram ini sangat berhasil membuat para pembaca merasa sangat campur aduk.



Comments