Milea : Suara dari Dilan, Pidi Baiq
- Rio Natsu
- Oct 30, 2021
- 4 min read

Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Keluarga, Persahabatan
Terbit : 2016
Tebal : 360 halaman
ISBN : 978 – 602 – 0851 – 56 - 3
Harga : Rp. 79.000
Dilan adalah panglima tempur. Hidupnya tak sekedar hidup untuk dirinya sendiri. Ada teman-teman yang menantinya untuk berbagi canda tawa, marah dan terluka.
Dilan adalah pacar Milea Adnan Hussain. Kehadirannya sangat berarti untuk Milea, sekedar untuk berbagi kalimat romantis yang membuat tersenyum.
Dilan adalah anak Bunda. Dia berkwajiban untuk membuat Bunda tersenyum dan tidak khawatir.
“Intinya, jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang.” – Dilan – hlm. 127
Hidup Dilan itu berat. Ada saja yang membuatnya harus berkorban untuk untuk melaksanakan tugasnya menjadi kekasih, sahabat dan anak. Jadi, jangan salahkan Dilan jika dia kadang kala harus mengorbankan beberapa hal untuk memenuhi tugasnya yang lain.
Jadi, jangan salahkan Dilan kalau Milea menangis. Juga, jangan salahkan Dilan kalau Bunda kecewa. Jangan salahkan Dilan saat teman-temannya harus terluka, atau bahkan pergi untuk selamanya. Itu bukan salah Dilan, karena Dilan sudah berusaha untuk jadi manusia yang baik untuk orang-orang di sekitarnya.
“Aku percaya, orang yang paling egois sebenarnya adalah orang yang paling merasa tidak aman di dunia. Menyembunyikan emosi hanya untuk terlihat seperti baik-baik saja, padahal sesungguhnya menyimpan berjuta pikiran di kepalanya dan begitulah aku saat itu.” – Dilan – hlm. 241
Milea : Suara dari Dilan, seri ketiga dari Dilan Series. Jika kita merasakan indahnya kisah asmara di jaman SMA melalui Dilan : Dia adalah Dilanku dan Sekarang, di seri Milea : Suara dari Dilan, kita akan belajar banyak hal tentang persahabatan, keluarga dan cinta yang lebih terasa lekat.
Pertama membaca Milea : Suara dari Dilan, kita akan bertemu Dilan saat sekarang. Dia menggambarkan seperti apa perasaannya saat membaca Dilan seri pertama dan kedua yang dikisahkan oleh Milea. Oh, aku lupa, di seri ketiga ini giliran Dilan yang cerita.
Kita jadi tahu seperti apa isi kepala Panglima Tempur saat menghadapi masalah-masalahnya, termasuk seperti apa perasaan Dilan saat cemburu, jatuh cinta, kecewa dan patah hati.
Ternyata, cowok lebih pandai berpura-pura dari cewek, lho. Dan, cowok lebih gampang menyerah dari pada cewek. Mungkin nggak semua cowok, namun ini Dilan. Saat Dilan mendengar Milea jadian dengan Nandan, dia memilih mundur, bukan mencari tahu seperti apa kebenarannya. Begitu juga saat Dilan mendengar Milea sering bersama Gunar. Rasanya, Dilan nggak segahar gelarnya “Panglima Tempur”.
Andaikan Dilan tipe cowok yang terbuka, mungkin ending-nya akan jadi bahagia. Mungkin, kalau Dilan tipe cowok yang pantang menyerah, bisa jadi tak ada yang terluka dan menyesali apa yang terjadi saat ini.
Baiklah, aku tidak ingin menyalahkan Dilan. Di dalam benak Dilan sudah ada pemikiran tentang bagaimana cara membuat Milea Bahagia. Ingat kalimat yang pernah diucapkan Dilan pada Milea :
“Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” – Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990
Maka, itulah yang harus Dilan lakukan, menghilang dari hidup Milea. Dilan tak tahu, pilihannya menghilang dari Milea bukan sesuatu yang membuat Milea bahagia, namun sebaliknya. Sampai waktu lama membawa mereka laripun, Milea tetap menaruh Dilan di separuh hatinya.
Novel ini juga menjawab, bisa jadi malah mengklarifikasi pernyataan atau cerita dari Milea. Seperti penyebab Akew meninggal, lalu kenapa Dilan ada di kantor polisi. Dilan tidak ditahan – untuk kasus Akew meninggal. Tapi, Dilan dan kawan-kawannya menemani Burhan yang ditahan polisi. Juga tentang gadis yang dikira Milea kekasih Dilan yang dia jumpai saat pemakaman ayah Dilan. Termasuk latar belakang cerita Dilan yang meramal Milea saat pertama kali kenalan.
Dilan itu teman yang baik. Dilan itu juga pacar yang baik. Dilan tipe anak yang baik. Dan sebenarnya, Dilan juga murid yang baik untuk guru-guru yang bisa mengerti dirinya.
Mungkin, guru-guru bisa membaca novel ini agar tahu bagaimana bersikap pada anak-anak istimewa seperti Dilan dan kawan-kawannya. Mereka tidak perlu dihukum, tidak perlu diceramahi panjang lebar. Cukup dimengerti dan sedikit memberi mereka perhatian dengan cara yang lebih bersahabat. Seperti apapun, anak-anak remaja itu masih punya hati. Jika mereka merasa diperhatikan, mungkin mereka bisa mengerti kenapa guru-guru tidak suka dengan ulah nakal mereka.
Mereka berulah, kadang ada alasan yang perlu kita dengar. Rasa persahabatan mereka teramat tinggi, termasuk rasa ingin mencoba hal baru yang beberapa termasuk hal menyimpang. Dilan menyukai Ibu Rini, gurunya, kenapa? Karena Ibu Rini bisa mengerti dirinya.Keluarga, Dilan bercerita banyak tentang keluarganya. Aku masih suka Bunda, dan makin suka dengan Bunda – Ibu Dilan. Dia keren, sangat berbeda. Mungkin, karena Bunda bisa berpikir luas, jadi caranya bersikap pada anak-anaknya lebih terasa bersahabat. Nanti, kalau aku punya anak, aku ingin jadi ibu kayak Bunda.
Jika di seri sebelumnya, saat Milea yang bercerita, Dilan adalah pusat inti yang tak terlepaskan. Dia hampir memenuhi kisah-kisah Milea. Namun, saat Dilan yang bercerita, Milea bukan satu-satunya tema novel ini.
Yang aku kurang suka adalah saat Dilan bilang “Seperti yang sudah Milea ceritakan, dan kalimat sejenisnya”. Dilan memang tidak ingin mengulang cerita Milea. Namun, seri pertama dan kedua itu sudah cukup lama aku baca. Jadi, aku akan lebih suka jika Dilan sedikit menceritakan kembali – sedikit saja – kisah itu padaku, sekedar mengingatkan saja.
Di novel ini ending sangat tidak penting, karena mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu ending macam apa yang akan mengakhiri kisah Dilan dan Milea. Jujur, saat menyelesaikan Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991 aku masih berharap ada keajaiban.
Namun, keajaiban tidak semudah itu terjadi termasuk pada kisah fiksi.
Tapi, entah kenapa aku merasa novel ini seperti novel dari kisah nyata. Jika memang ini fiksi, aku sangat mengacungi jempol pada penulisnya yang membuat aku merasakan kisah nyata dalam kisah fiksi. Keren.
Terima kasih Pidi Baiq sudah mengajariku bahwa tidak semua kisah fiksi romance itu bisa happily ever after.
Rating 3,2 dari 5 bintang.



Comments