Selamat Tinggal, Novel Karya Tere Liye
- Rio Natsu
- Oct 7, 2021
- 3 min read
Pernah gak sih kamu merasa kalau sebagian dari hidupmu dipenuhi kepalsuan?
Palsu untuk me

ndapatkan sebuah penerimaan.
Palsu karena itulah penawar saat susah.
Harus palsu karena circle yang mendorong.
Jika iya, maka novel ‘Selamat Tinggal’ akan membuat pikiranmu tertembak dan merasakan penyesalan yang indah. Karena sejatinya.. Semua orang pernah memasang topeng untuk melindungi dirinya. Dan itu, tidak sepenuhnya salah.
Tetapi semuanya akan menjadi salah ketika kepribadian kita terlanjur membenarkan yang salah lantas tak mau belajar.
Itulah yang aku rasakan ketika selesai membaca novel ‘Selamat Tinggal’ karya Tere Liye. Entahlah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena sungguh banyak pembelajaran yang ‘Jleb’ saat membaca novel ini.Well, novel ini bercerita tentang apa win?
Ehm, Aku tidak begitu pandai membuat sinopsis. Lebih tepatnya ‘aku malas’ menulis sinopsis yang bagus seperti penulis pada umumnya. Aku lebih suka menulis sesuka jariku saja.Adalah Sintong Tinggal. Seorang remaja yang kuliah di jurusan sastra dimana kehidupannya terasa ‘stuck’ ketika memasuki semester 7. Tanpa disadari ia hampir menjadi mahasiswa abadi karena kepingan puzzle kehidupannya berjalan berlawanan dengan hati kecilnya. Ia adalah seorang penjaga toko buku bajakan, padahal dia sendiri memiliki bakat menulis. Sepotong kehidupan cintanya yang kandas juga telah mengikis semangatnya.
Sampai suatu hari seorang mahasiswi bernama Jess memberi warna baru di kehidupannya. Ia mulai melupakan masa lalu suramnya. Kemudian belajar membuat lembaran yang baru. Termasuk pada skripsinya.
Siapa sangka penelitian pada tokoh penulis ‘Sutan Pane’ di masa lalu untuk skripsinya telah membuat percikan semangat menulisnya bangkit lagi? Dan karena asyik berburu sumber penelitian, ia mendapatkan jejak-jejak yang seru dan bermakna dalam hidupnya.
Dari Berburu Jejak Sutan Pane hingga Pencarian Jati Diri
Jujur, kalau membaca status Tere Liye di FB sekilas cepat saja tanpa melihat dari sisi lain. Pasti ada yang berpikir bahwa Tere Liye ini memiliki pola pikir sempit. Seperti, “Apa sih, dikit-dikit nyinyirin orang pamer. Beda tau antara pamer dan menginspirasi. Bla bla”
Well, aku yakin sebagian besar pembaca setia buku Tere Liye pasti tidak setuju dengan kalimat tersebut. Termasuk aku. Tere Liye selalu sempurna dalam mengulas sebuah karakter. Layaknya drama korea, karakter yang diciptakannya pada novelnya tidak ada yang ‘uh jahat banget’ atau ‘uh baik banget’. Semuanya manusiawi.
Dan tahukah? Palsu pun juga manusiawi. Karena itulah bentuk adaptasi diri. Walau Tere Liye benci dengan kepalsuan, buku bajakan dsb. Tapi dia menempatkan kekecewaan tersebut pada tokoh Sintong dengan cara yang manusiawi.
Dalam buku ini aku sedikit banyak belajar dari karakter Jess, Bunga, Mawar, dan Sutan Pane. Dari dunia Endorser, Percetakan Buku Bajakan, Obat Palsu hingga fakta kelam dibalik dunia penulis terbaik. Semua penuh kepalsuan yang manusiawi.
Mama Jess yang merupakan seorang influencer. Ternyata hidupnya penuh dengan kepalsuan. Suaminya pergi, segala yang dijualnya disosial media adalah produk palsu. Kemewahan itu, terasa tidak menyenangkan di mata Jess.
Nasib sama dengan Bunga, teman Jess. Ayahnya yang merupakan pemilik percetakan buku bajakan, namun ia tidak bisa menghentikannya. Bunga dan Jess adalah sahabat yang sama-sama ingin keluar dari dunia yang palsu.
Tidak hanya buku dan sosial media yang bisa berujar kepalsuan. Bahkan dunia farmasipun juga memiliki musuh. Obat palsu, waw.. Luas sekali pemikiran penulisnya. Dan cara menghubungkannya dalam tokoh Mawar itu keren. Hanya saja, aku sedikit kecewa kenapa Sintong begitu setia pada cinta pertamanya. Layaknya novel Sunset Bersama Rosie.. Fix, penulisnya suka sekali pada karakter yang setia. Padahal.. Cinta dan Realitas itu bukannya harus seimbang. Ehm. Apakah penulis merupakan golongan ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika?’ Hihi.
Dan akupun belajar dari kehidupan Sutan Pane. Kalian tahu apa yang aku pelajari dan sangat aku garis bawahi dari kehidupan Sutan Pane?Bahwa kadang, penulis terlalu sibuk menuliskan hal-hal baik. Mengkritik sana dan sini. Sibuk dengan produktivitas di dunia kertas. Sampai kemudian lupa, bahwa dunia ini harus seimbang.
Dalam ending kehidupan Sutan Pane, ia menjual 5 buku terbaiknya untuk menutupi hutang adiknya. Memilih menghilang dari kehidupan karena malu dengan dirinya sendiri. Penulis terbaik itu, memiliki kisah nyata yang suram. Dan sungguh, sebenarnya.. Ini banyak terjadi.
Dibalik kata-kata bijak itu terdapat inspirasi dari melihat ketidakadilan dan kejahatan diluar sana. Tapi kadang-kadang, penulis lupa dengan orang terdekatnya. Kenapa penulis bisa hilang begitu saja? Karena prinsip hidupnya sendiri yang membantingnya.
“Hidup adalah kesesuaian antara perkataan, tulisan dan perbuatan. Apalah arti kehormatan seorang manusia saat tiga hal ini tidak sesuai lagi. Apalah arti martabat seorang manusia ketika hal tersebut bertolak belakang.”
“Dan kita bertanggung jawab tidak hanya terhadap diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang disekitar kita. Atasan bertanggung jawab atas anak buahnya. Orang tua bertanggung jawab atas anak-anaknya. Memastikan perkataan, tulisan dan perbuatan itu selalu sama.” (Selamat Tinggal,Tere Liye: 337)
Sungguh, inilah kepalsuan yang sangat membuatku belajar hingga aku selalu mengingatkan pada diriku sendiri. Family first, healing with curhat. Baru belajar dan menulis hal yang ‘sesuai’. Karena lucu sekali kalau di blog aku menulis ‘ceramah’ tapi aslinya aduh, jauh sekali.



Comments